Oleh: Rahajeng Kurniawati

Setiap kisah selalu menyimpan cerita. Tangis bahagia hingga derai air mata mewarnai perjalanan NusantaRun dari chapter 1 hingga chapter 6. Tahun ini, NusantaRun akan melanjutkan perjalanannya dari Wonosobo menuju Gunung Kidul, melintasi medan beragam sejauh 169 km. Semuanya demi satu misi, pendidikan Indonesia yang lebih baik.
Tiga pilar yang diemban NusantaRun, yaitu kecintaan pada olahraga lari, berlari melintasi indahnya Indonesia, serta menguatkan budaya untuk bisa berkontribusi, karena pelari harus mencari donasi yang nantinya akan diberikan kepada yayasan sosial yang menjadi mitra NusantaRun.
Kecintaan pada dunia lari dan pendidikan Indonesia
Satu kesamaan yang mengawali terbentuknya NusantaRun adalah kecintaan pada dunia lari, sekaligus keinginan untuk berkontribusi demi pendidikan Indonesia yang lebih baik. Hal inilah yang dirasakan oleh Irine Maharani, ibu 2 anak yang sudah berkontribusi sebagai pelari sejak NusantaRun chapter 1. Berkenalan dengan dunia lari pada akhir 2012, akhirnya olahraga lari menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Apalagi gangguan anxiety dan post trauma stress dissorder sembuh berkat berlari.
Agar dapat menyelesaikan misi mulia ini, para pelari tentu harus melakukan berbagai macam persiapan, baik persiapan fisik, mental, dan juga persiapan hati. Mulai dari latihan fisik secara rutin, bergabung dalam komunitas lari, hingga ikut serta dalam virtual coaching. Tak sampai di situ, tak sekadar ketangguhan untuk menaklukan puluhan hingga ratusan kilometer, para pelari juga harus mengumpulkan donasi. Berjibaku dengan segala macam kreativitas untuk membuat hati orang-orang baik terketuk. Bagi Teguh Anantawikrama, berbuat baik tak perlu menunggu berkelimpahan. Pelari yang sudah memulai debutnya sejak tahun 2010 ini, berkeyakinan bahwa selama masih dikaruniai tubuh yang sehat, maka kontribusi bagi sesama bisa dilakukan dalam berbagai bentuk.
“The reason why I keep registering myself into this event is simple; to see the human psyche pushing as deep as it could for as long as it could – it’s really special. You don’t see that on a day-to-day basis. It was really fun to be a part of a group that were really dedicated towards something that all of us knew was going to be impossible at first glance.” – Sandy Suryapranata.
Lain cerita bagi Sandy Suryapranata, pelari setia NusantaRun sejak chapter 1 ini, mengaku terharu bisa ikut serta dalam misi pendidikan yang awalnya tampak “mustahil”. Namun, niat baik pasti menemukan jalan, mengalahkan segala macam ketidakmungkinan. Kegigihan mengumpulkan donasi membuat orang-orang yang tak disangka bersedia menjadi donatur, justru menjadi donatur terbesar dan dengan sukarela mengajak orang lain untuk bersedia melakukan hal yang sama.
Cerita ini masih akan terus berlanjut hingga misi besar untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik. Semua anak bisa menikmati bangku pendidikan, gedung-gedung sekolah berdiri megah, para guru yang berkualitas, dan berbagai mimpi anak Indonesia yang menunggu untuk diwujudkan. Masih dibutuhkan kaki-kaki yang kuat menempuh ratusan kilometer mengelilingi negeri tercinta, kerja keras dari relawan yang tak kenal lelah, serta tangan-tangan orang baik yang bersedia memberi dengan sukacita. Sejatinya, setiap manusia dilahirkan untuk memberi manfaat bagi sesama.