Oleh: Rahajeng Kurniawati

Melanjutkan misi #AyoBangunSekolah pada NusantaRun chapter 4, Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan tentang “Manajemen Kelas” untuk para guru SMP Permata Hati Purwokerto yang dilaksanakan pada tanggal 27 hingga 28 Juli lalu. Pelatihan yang dipandu oleh Boki Nur Astuty, Mohammad Rizki Satria, dan Kornelius Koko Irwanto ini mendapat atensi yang positif dari para peserta.
Pelatihan hari pertama diawali dengan diskusi awal selama 30 menit, mengenai praktik baik apa saja yang sudah dilakukan oleh masing-masing guru sejak mengajar pada awal tahun ajaran yang baru. Setelah itu, sesi pertama mengenai Manajemen Kelas dimulai. Tiap peserta pelatihan diwajibkan membuat catatan KWL (apa yang aku tahu, apa yang aku ingin tahu, dan apa yang aku pelajari mengenai Manajemen Kelas). Metode ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dasar peserta mengenai topik pelatihan. Ternyata sebagian besar guru memahami bahwa manajemen kelas adalah pengaturan ruang kelas agar suasana belajar menyenangkan.
Pembahasan dilanjutkan dengan definisi Manajemen Kelas beserta pengenalan elemen-elemen kuncinya. Di mana manajemen kelas adalah segala upaya yang guru lakukan untuk membuat murid, ruang belajar, waktu, materi pembelajaran terorganisasi dengan baik, sehingga materi bisa tersampaikan dan murid dapat belajar. Terdapat tiga elemen penting dalam manajemen kelas, yaitu mengatur lingkungan fisik, memelihara iklim belajar yang kondusif, dan menguatkan interaksi positif.
Kegiatan dilanjutkan dengan membayangkan situasi dan kondisi kelas yang dialami di keseharian, lalu menuliskannya dalam Y Chart (apa yang aku lihat, dengar, dan rasakan). Kemudian setiap peserta berdiskusi tentang hasil refleksinya masing-masing. Pembahasan pun berlanjut ke materi tata ruang kelas, yang merupakan gambaran dari cara mengajar serta karakteristik pribadi sebagai guru. Lingkungan fisik dan suasana kelas yang baikd apat memaksimalkan kemampuan guru dalam berinteraksi, serta membantu murid dalam penguatan aspek akademik, sosial, dan emosional. Peserta pun menyimpulkan bahwa guru yang bijak dapat menciptakan lingkungan yang mendorong murid-murid untuk mengajar dirinya sendiri.
Pelatihan berlanjut ke hari kedua, di mana materi yang disampaikan mengenai membentuk iklim belajar yang kondusif di kelas. Di sinilah perlunya jadwal serta prosedur yang dibuat secara jelas, disetujui, serta diikuti oleh semua anggota kelas, dalam hal ini guru dan murid. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar murid bisa mengatur dirinya sehingga lebih siap untuk mengikuti kegiatan belajar. Kegiatan pelatihan diakhiri dengan menguatkan interaksi positif, yang meliputi intonasi berbicara, sikap tubuh, teknik bertanya, serta penerapan konsekuensi.
Dengan memahami serta menerapkan manajemen kelas secara benar, diharapkan guru dapat lebih siap dalam mengajar dan menjadi panutan bagi setiap anak didiknya.